Alat Kominusi Pengolahan Bahan Galian Tambang (Crusher)

Alat Kominusi Pengolahan Bahan Galian Tambang Crusher

Alat – alat kominusi (Crusher) digunakan dalam pengolahan bahan galian tambang untuk mengurangi ukuran material menjadi ukuran yang lebih kecil sehingga dapat di proses lebih lanjut. Primary crusher banyak digunakan pada pemecahan bahan – bahan tambang dari ukuran besar menjadi ukuran antara 6 in sampai 10 in (150 sampai 250 mm). Secondary crusher akan meneruskan kerja crusher primer, yaitu menghancurkan partikel padatan hasil crusher primer menjadi berukuran sekitar ¼ in (6 mm).

 

Primary Crushing

 

  1. Jaw crusher sangat cocok untuk penghancuran primer dan sekunder dari semua jenis mineral dan batuan dengan kekuatan tekan sekitar 320 MPa, seperti bijih besi, bijih tembaga, bijih emas, bijih mangan, batu kali, kerikil, granit, basalt, kuarsa, diabas, dan bahan galian lainnya. Jenis jaw crusher yaitu blake jaw crusher dan dodge crusher.

 

  1. Gyratory crusher memiliki kecepatan penghancur umumnya antara 125 sampai 425 girasi/menit. Gyratory crusher lebih efisien untuk kominusi kapasitas besar terutama untuk kapasitas > 900 ton/jam. Kapasitas Gyratory crusher bervariasi dari 600 – 6000 ton/jam, tergantung ukuran produk yang diinginkan (antara 0.25 inch). Biasanya bahan galian yang menggunakan alat ini dolomite, gypsum, calcite, bentonite, barite.

 

Secondary Crushing

 

  1. Cone crusher merupakan alat peremuk yang biasa digunakan untuk tahap secondary crushing. Material yang digunakan untuk cone crusher adalah material yang tidak terlalu keras agar tidak merusak mantel dari crusher. Kelebihan alat ini yaitu biaya operasional yang cukup rendah, produktivitas yang tinggi, konstruksi yang handal, penyesuaian mudah namun tidak dapat digunakan untuk primary crushing seperti gyratory crusher.

 

  1. Crushing roll biasanya digunakan untuk memecah padatan lunak (hardness rendah) misalnya batubara, gipsum, limestone, bata tahan api dengan skala MOHS <4. Ukuran umum smooth-roll crusher diameter 24 in sampai dengan diameter 78 in (2000 mm), panjang 36 in (914 mm). Kecepatan putaran antara 50 – 300 rpm. Umpan padatan berukuran sampai dengan 1/2 sampai 3 in (12 mm sampai 75 mm), dengan produk berukuran sekitar 10 mesh. Jenis roll crusher yaitu single roll crusher dan double roll crusher.

 

  1. Hammer mill memiliki bagian penggerak berupa rotor yang berputar dengan kecepatan tinggi di dalam casing silinder. Sumbu rotor biasanya horisontal. Kapasitas untuk hammer mill tergantung kehalusan produk yang diinginkan, misal 0,1 sampai 15 ton/jam untuk ukuran produk 200 mesh atau lebih halus. Untuk impactor bisa sampai dengan 600 ton/jam. Ukuran produk antara 1 in (25 mm) sampai dengan 20 mesh, tetapi dapat dibuat lebih fleksibel sesuai dengan ukuran grid yang terpasang. Hammer mill lebih serbaguna pemakaianya untuk menumbuk bahan – bahan berserat (misalnya kulit kayu), bahan padatan yang agak lengket (sticky material, misalnya lempung) sampai pada batuan keras.

 

Pengolahan bahan galian tambang memerlukan proses kominusi yang efisien dan tepat. Alat kominusi, seperti jaw crusher, gyratory crusher, cone crusher, crushing roll, dan hammer mill, menjadi pilihan utama dalam mengurangi ukuran material menjadi ukuran yang lebih kecil. Dengan berbagai fitur unggulan yang ditawarkan oleh masing-masing alat, industri pertambangan dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam pengolahan bahan galian, memastikan kesinambungan dan keberlanjutan operasi tambang.

POSISI PERSETUJUAN TEKNIS DALAM PERSETUJUAN LINGKUNGAN

Persetujuan Teknis adalah persetujuan dari Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah berupa ketentuan mengenai standar perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan atau analisis mengenai dampak lalu lintas usaha sesuai peraturan perundang-undangan, serta wajib dimiliki oleh pelaku usaha yang memiliki izin lingkungan berupa Amdal atau UKL UPL (termuat dalam Perizinan Berusaha, atau persetujuan Pemerintah Pusat, atau Pemerintah Daerah).

 

Selain Persetujuan Teknis, pelaku usaha juga wajib memiliki SLO (Surat Kelayakan Operasional), merupakan surat yang memuat pernyataan pemenuhan mengenai standar perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

 

Persetujuan Teknis Baku Mutu Lingkungan Hidup terdiri dari :

1.       Pertek pembuangan dan/atau pemanfaatan Air Limbah

2.       Pertek pembuangan Emisi

3.       Pertek Pengelolaan Limbah B3 (diintegrasikan ke dalam Persetujuan Lingkungan)




Penulis : Siti Rohmah
Editor: Arien

Mengenal Alat Kominusi Pengolahan Bahan Galian Tambang Grinding

Grinding adalah proses terakhir dari comminution dimana proses kerjanya menggunakan prinsip gabungan dari impak (tumbukan) dan abrasi. Pada bijih dengan gerakan bebas dari media yang tidak terhubung dengan sesuatu seperti rod, bola pejal, ataupun pebble. Pada proses grinding partikel direduksi dari 5 sampai 250 mm menjadi 10 sampai 300 μm, grinding biasanya dilakukan pada kondisi basah (wet condition) untuk mendapatkan slurry yang akan diumpankan pada proses concentration, meskipun ada beberapa keadaan dari grinding yang dilakukan pada kondisi kering (dry condition) namun dilakukan pada aplikasi yang terbatas.

  1. Batangan Silinder Baja (Rod Mill)

 

Umpan yang dapat masuk berukuran 50 mm dan menghasilkan produk sebesar 300 μm. Ciri khusus dari rod mill adalah panjang shell silinder antara 1,5 sampai 2,5 kali diameternya. Rod mill menggunakan rod selektif yang ukurannya ditentukan sehingga nantinya akan didapatkan grinding yang optimum, biasanya rod terbuat dari high carbon steel dengan diameter berukuran 25 sampai 150 mm, semakin kecil diameter rod maka surface area (luas permukaan sentuhnya) lebih luas sehingga didapat efisiensi grinding yang lebih besar. Kecepatan grinding optimum biasanya pada 50-65% kecepatan grinding kritis, namun ada beberapa dari jenis grinding menggunakan kecepatan sampai 80% tanpa adanya catatan kegagalan aus yang berarti.

 

  1. Bola – Bola Baja

 

Prinsip kerja alat grinding yang menggunakan media bola-bola baja adalah

memutar silinder yang berisi bola-bola grinding yang terbuat dari baja dan material (bijih) di dalamnya. Proses grinding terjadi dengan pergerakan bola-bola dimana balls berputar di dalam dan menggerus bijih. Semakin besar diameter silinder maka kecepatan rotasi akan semakin lambat. Jika kecepatan terlalu besar maka akan terjadi gaya sentrifugal pada silinder sehingga balls akan menempel pada tepi silinder dan proses grinding akan menjadi tidak optimum. Grinding balls biasanya terbuat dari baja, baik itu baja karbon tinggi, baja tempa, baja paduan, atau baja cor-coran dan konsumsinya berkisar antara 0.1 sampai 1.0 kg per ton bijih tergantung dari kekerasan bijih, kehalusan gerus, dan kualitas medium. Pengisian dilakukan sebesar 40-50% dari volum mill, dan sekitar 40% adalah ruang kosong. Alat grinding yang menggunakan bola-bola baja sebagai media grindingnya ada 2 jenis yaitu ball mill dan tube mill.

  • Ball Mill

Ball mill mempunyai ukuran panjang kira – kira sama dengan diameternya atau maksimal 1 ½ kali diameternya. Diameter mill bisa mencapai 5,5 m dan panjang 7,3 m. Ball mill bekerja dengan kecepatan yang lebih tinggi yaitu sekitar 70-80% dari kecepatan kritis. Ukuran produk hasil keluaran dari ball mill sekitar 45 μm. Kinerja mesin ball mill dinilai berdasarkan tenaga bukan berdasarkan kapasitas dan didorong dengan motor bertenaga sebesar 4 MW.

  • Tube Mill

Prinsipnya sama dengan ball mill, perbedaanya hanya panjangnya antara 2 kali diameternya dan grinding media menggunakan bola- bola baja. Selain itu, tube mill memiliki 2 kompartemen, sehingga ukuran produk yang dihasilkan lebih halus dibandingkan ball mill yaitu <45 μm.

  1. Pebble

 

Pebble adalah media grinding berupa batuan keras atau batuan natural, dengan kata lain alat grinding yang menggunakan pebble sebagai media grindingnya menggunakan batuan yang mengandung bijih itu sendiri. Alat grinding yang menggunakan pebble sebagai media grindingnya terdiri atas semi autogenous grinding (SAG) mill, autogenous grinding mill, dan tower mill.

  • Semi Autogenous Grinding (SAG) Mill

Semi Autogenous Grinding (SAG) mill adalah peralatan / sirkuit grinding yang paling sering diminati dibandingkan dengan sirkuit konvensional dikarenakan memiliki beberapa keuntungan-keuntungan, seperti biaya yang lebih rendah, kemampuan menangani material basah dan lengket, flowsheet yang lebih sederhana, peralatan berukuran besar, kebutuhan operator yang sedikit, dan konsumsi medium grinding yang sedikit. SAG mill menggunakan metode grinding dengan kombinasi medium grinding dan partikel bijih itu sendiri. Berdasarkan data riset yang ada, SAG mill dengan balls sebagai medium terbukti paling efektif pada 6-10% volum mill.

  • Autogenous Grinding Mill

Prinsip kerja autogenous grinding mill sama dengan dengan prinsip kerja semi autogenous grinding mill, hanya saja autogenous mill bekerja berdasarkan metode grinding yang hanya menggunakan partikel- partikel bijih itu sendiri sebagai media untuk melakukan kominusi.

Mengenal Alat Kominusi Pengolahan Bahan Galian Tambang Crusher

Alat – alat kominusi (Crusher) digunakan dalam pengolahan bahan galian tambang untuk mengurangi ukuran material menjadi ukuran yang lebih kecil sehingga dapat di proses lebih lanjut. Primary crusher banyak digunakan pada pemecahan bahan – bahan tambang dari ukuran besar menjadi ukuran antara 6 in sampai 10 in (150 sampai 250 mm). Secondary crusher akan meneruskan kerja crusher primer, yaitu menghancurkan partikel padatan hasil crusher primer menjadi berukuran sekitar ¼ in (6 mm).

 

Primary Crushing

 

1.     Jaw crusher sangat cocok untuk penghancuran primer dan sekunder dari semua jenis mineral dan batuan dengan kekuatan tekan sekitar 320 MPa, seperti bijih besi, bijih tembaga, bijih emas, bijih mangan, batu kali, kerikil, granit, basalt, kuarsa, diabas, dan bahan galian lainnya. Jenis jaw crusher yaitu blake jaw crusher dan dodge crusher.

 

2.     Gyratory crusher memiliki kecepatan penghancur umumnya antara 125 sampai 425 girasi/menit. Gyratory crusher Lebih efisien untuk kominusi kapasitas besar terutama untuk kapasitas > 900 ton/jam. Kapasitas Gyratory crusher bervariasi dari 600 – 6000 ton/jam, tergantung ukuran produk yang diinginkan (antara 0.25 inch). Biasanya bahan galian yang menggunakan alat ini dolomite, gypsum, calcite, bentonite, barite.

 

Secondary Crushing

 

1.     Cone crusher merupakan alat peremuk yang biasa digunakan untuk tahap secondary crushing. Material yang digunakan untuk cone crusher adalah material yang tidak terlalu keras agar tidak merusak mantel dari crusher. Kelebihan alat ini yaitu biaya operasional yang cukup rendah, produktivitas yang tinggi, konstruksi yang handal, penyesuaian mudah namun tidak dapat digunakan untuk primary crushing seperti gyratory crusher.

 

2.     Crushing roll biasanya digunakan untuk memecah padatan lunak (hardness rendah) misalnya batubara, gipsum, limestone, bata tahan api dengan skala MOHS <4. Ukuran umum smooth-roll crusher diameter 24 in sampai dengan diameter 78 in (2000 mm), panjang 36 in (914 mm). Kecepatan putaran antara 50 300 rpm. Umpan padatan berukuran sampai dengan 1/2 sampai 3 in (12 mm sampai 75 mm), dengan produk berukuran sekitar 10 mesh. Jenis roll crusher yaitu single roll crusher dan double roll crusher.

 

3.     Hammer mill memiliki bagian penggerak berupa rotor yang berputar dengan kecepatan tinggi di dalam casing silinder. Sumbu rotor biasanya horisontal. Kapasitas untuk hammer mill tergantung kehalusan produk yang diinginkan, misal 0,1 sampai 15 ton/jam untuk ukuran produk 200 mesh atau lebih halus. Untuk impactor bisa sampai dengan 600 ton/jam. Ukuran produk antara 1 in (25 mm) sampai dengan 20 mesh, tetapi dapat dibuat lebih fleksibel sesuai dengan ukuran grid yang terpasang. Hammer mill lebih serbaguna pemakaianya untuk menumbuk bahan – bahan berserat (misalnya kulit kayu), bahan padatan yang agak lengket (sticky material, misalnya lempung) sampai pada batuan keras.

Penulis: Rohmah

pengujian-rona-awal-lingkungan-hidup

Survei Pengambilan Data Rona Awal Lingkungan Hidup di Desa Damarpura oleh PT. Bima Shabartum Wijaya

pengujian-rona-awal-lingkungan-hidup

Survei Pengambilan Data Rona Awal Lingkungan Hidup di Desa Damarpura oleh PT. Bima Shabartum Wijaya

  1. Bima Shabartum Wijaya, sebuah perusahaan terkemuka dalam industri tambang dan konstruksi, telah melakukan survei pengambilan data rona awal lingkungan hidup di Desa Damarpura, Kecamatan Buana Pemaca, Kabupaten OKU Selatan. Survei ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mematuhi peraturan lingkungan dalam setiap kegiatan operasionalnya, terutama dalam eksploitasi sumber daya alam seperti andesit.

Mengapa Survei Lingkungan Penting?

Survei pengambilan data rona awal lingkungan hidup merupakan langkah awal yang sangat penting sebelum memulai kegiatan eksplorasi atau eksploitasi tambang. Tujuan utama dari survei ini adalah untuk memahami kondisi awal lingkungan di sekitar lokasi tambang. Dengan mengetahui potensi dampak lingkungan sejak dini, perusahaan dapat merencanakan langkah mitigasi yang tepat untuk meminimalkan efek negatif terhadap ekosistem setempat.

Komitmen PT. Bima Shabartum Wijaya terhadap Lingkungan

Sebagai perusahaan yang bertanggung jawab, PT. Bima Shabartum Wijaya selalu mengedepankan aspek lingkungan dalam setiap operasionalnya. Proses survei ini dilakukan dengan menggunakan teknologi dan metode terkini untuk mendapatkan data yang akurat. Hal ini sejalan dengan visi perusahaan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekitar.

Peluang Investasi di PT. Bima Shabartum Wijaya

  1. Bima Shabartum Wijaya menawarkan peluang investasi yang menarik di sektor pertambangan, khususnya pada komoditas andesit. Andesit merupakan batuan beku yang sangat kuat dan tahan lama, ideal untuk berbagai kebutuhan konstruksi seperti pembangunan jalan, trotoar, dan infrastruktur lainnya.

Potensi Andesit di Desa Damarpura, OKU Selatan

Desa Damarpura di Kabupaten OKU Selatan merupakan lokasi yang sangat strategis untuk eksploitasi andesit. Berdasarkan survei awal, ditemukan bahwa sumber daya andesit di wilayah ini sangat melimpah. PT. Bima Shabartum Wijaya siap untuk memproduksi sekitar 2.025.000 ton andesit dalam jangka waktu lima tahun ke depan. Jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional, terutama dalam mendukung proyek-proyek infrastruktur besar.

Keunggulan Andesit untuk Konstruksi

Andesit memiliki beberapa keunggulan yang menjadikannya bahan pilihan utama dalam pembangunan infrastruktur:

  1. Kekuatan dan Ketahanan: Andesit terkenal sebagai batuan yang sangat kuat dan tahan terhadap tekanan tinggi. Ini membuatnya ideal untuk digunakan dalam proyek-proyek yang membutuhkan bahan tahan lama.
  2. Estetika yang Menarik: Tekstur dan warna andesit yang alami memberikan tampilan yang estetis, cocok untuk pembangunan trotoar, dinding penahan, hingga lanskap kota.
  3. Ketersediaan Lokal: Dengan sumber daya yang melimpah di Desa Damarpura, PT. Bima Shabartum Wijaya mampu menyediakan andesit berkualitas tinggi dengan harga yang kompetitif.

Kesimpulan

Survei pengambilan data rona awal lingkungan hidup yang dilakukan oleh PT. Bima Shabartum Wijaya di Desa Damarpura merupakan bukti nyata komitmen perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara eksploitasi sumber daya alam dan kelestarian lingkungan. Selain itu, peluang investasi di sektor andesit yang dimiliki perusahaan ini sangat menjanjikan, dengan potensi produksi andesit mencapai 2.025.000 ton dalam lima tahun ke depan. Dengan kualitas andesit yang unggul dan aplikasi yang luas di bidang konstruksi, PT. Bima Shabartum Wijaya siap menjadi penyedia andesit terkemuka di Indonesia.

Hubungi kami sekarang untuk informasi lebih lanjut dan peluang investasi di PT. Bima Shabartum Wijaya!

 

📞 Untuk layanan konsultan tambang dan lingkungan, hubungi kami: Telp: 0711-411407
WhatsApp: +62823-7472-2113
Email: admin.palembang@bimashabartum.co.id
Website: bimashabartum.co.id

IUP-OP-SUDAH-KELUAR-1

PT. Bima Shabartum Wijaya Raih IUP Operasi Produksi

IUP-OP-SUDAH-KELUAR-1

Bima Shabartum Wijaya Raih IUP Operasi Produksi: Peluang Besar dalam Industri Andesit

Pada bulan Februari 2024, PT. Bima Shabartum Wijaya secara resmi memperoleh IUP Operasi Produksi (Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi), langkah signifikan yang memungkinkan perusahaan ini memulai operasi pertambangan dan produksi andesit secara komersial. Izin ini menjadi tonggak penting bagi perusahaan dalam mengoptimalkan potensi sumber daya tambang yang melimpah, terutama di wilayah Sumatera Selatan.

Apa Itu IUP Operasi Produksi?

IUP Operasi Produksi merupakan izin yang diberikan kepada perusahaan tambang setelah menyelesaikan studi kelayakan dan eksplorasi yang berhasil. Izin ini memungkinkan perusahaan untuk melakukan kegiatan tambang, termasuk penambangan, pengolahan, dan pemasaran hasil tambang. Bagi PT. Bima Shabartum Wijaya, pencapaian ini menandai awal dari peningkatan aktivitas pertambangan, terutama pada komoditas andesit yang menjadi fokus utama.

Potensi Andesit di OKU Selatan

  1. Bima Shabartum Wijaya telah melakukan eksplorasi di Desa Damarpura, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, yang dikenal memiliki sumber daya andesit yang melimpah. Andesit adalah batuan beku yang sangat populer dalam industri konstruksi karena kekuatannya yang luar biasa dan ketahanannya terhadap cuaca ekstrem.

Diperkirakan, perusahaan akan mampu memproduksi hingga 2.025.000 ton andesit dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Cadangan ini diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan konstruksi di berbagai wilayah, mendukung pembangunan infrastruktur skala besar di Indonesia.

Keunggulan Andesit sebagai Material Konstruksi

Andesit dikenal sebagai material unggulan dalam industri konstruksi karena sifat-sifat berikut:

  • Kuat dan Tahan Lama: Andesit memiliki struktur yang sangat kuat dan tahan terhadap tekanan, menjadikannya ideal untuk proyek infrastruktur berat seperti pembangunan jalan dan trotoar.
  • Tahan Terhadap Cuaca: Kemampuan andesit untuk bertahan dalam berbagai kondisi cuaca menjadikannya pilihan utama untuk proyek-proyek di lingkungan terbuka.
  • Estetika yang Menarik: Andesit juga memiliki tampilan alami yang menarik, sering digunakan untuk mempercantik lanskap atau dekorasi eksterior bangunan.

Mengapa Memilih PT. Bima Shabartum Wijaya?

Dengan telah diperolehnya IUP Operasi Produksi, PT. Bima Shabartum Wijaya kini berada di posisi yang kuat untuk menjadi salah satu penyedia andesit berkualitas tinggi di Indonesia. Keunggulan kami meliputi:

  • Produksi Skala Besar: Kami siap memproduksi andesit dalam jumlah besar untuk memenuhi permintaan pasar konstruksi nasional.
  • Sumber Daya yang Melimpah: Cadangan andesit yang ditemukan di Desa Damarpura menjamin pasokan yang stabil dan berkelanjutan selama bertahun-tahun ke depan.
  • Kualitas Material yang Terjamin: Andesit dari wilayah ini memiliki karakteristik fisik yang sangat sesuai untuk berbagai aplikasi konstruksi, menjadikannya pilihan tepat bagi proyek besar.

Peluang Investasi Bersama PT. Bima Shabartum Wijaya

Dengan potensi sumber daya yang besar dan kini diperkuat oleh IUP Operasi Produksi, PT. Bima Shabartum Wijaya menawarkan peluang investasi yang sangat menguntungkan. Bergabunglah bersama kami dalam mengembangkan tambang andesit yang siap memasok kebutuhan infrastruktur nasional.

Keuntungan Berinvestasi Bersama Kami:

  • Stabilitas Pasokan: Dengan cadangan yang melimpah dan rencana produksi yang jelas, kami memastikan pasokan material konstruksi yang stabil.
  • Legalitas yang Kuat: Dengan perolehan IUP Operasi Produksi, kami mematuhi semua regulasi pertambangan yang berlaku, memastikan keamanan dan keberlanjutan operasi.
  • Dukungan Infrastruktur: Lokasi tambang yang strategis di Sumatera Selatan memudahkan akses ke pasar lokal maupun nasional.

Hubungi Kami untuk Informasi Lebih Lanjut

Bima Shabartum Wijaya siap memenuhi kebutuhan konstruksi Anda dengan andesit berkualitas tinggi. Hubungi kami sekarang dan jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari industri pertambangan yang sedang berkembang pesat ini.

 
📞 Untuk layanan konsultan tambang dan lingkungan, hubungi kami: Telp: 0711-411407
WhatsApp: +62823-7472-2113
Email: admin.palembang@bimashabartum.co.id
Website: bimashabartum.co.id
 

5 Hal Pertama yang Harus Dilakukan Sebelum Mengurus Izin Lingkungan

5 Hal Pertama yang Harus Dilakukan Sebelum Mengurus Izin Lingkungan

kelayakan teknis, ekonomi dan lingkungan. Dalam hal pengurusan kelayakan lingkungan yang dibuktikan dengan Perling terdapat beberapa tahap yang harus dilakukan oleh pemrakarsa.

Berdasarkan regulasi terbaru (PP 22 Tahun 2021), terdapat persyaratan yang harus dipenuhi pemrakarsa sebelum dapat memulai pengurusan Perling. Berikut syarat yang harus dilakukan dan disiapkan:

  1. Melakukan penapisan dokumen lingkungan ke Dinas Lingkungan setempat sesuai dengan jenis industri, kapasitas dan besaran usaha yang akan diajukan. Syarat dan informasi lengkap untuk keperluan penapisan ini dapat dilihat pada lampiran K tentang Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral pada Permen KLHK RI No 4 Tahun 2021.
  2. Deskripsi Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan

Dokumen Deskripsi rencana usaha dan/atau kegiatan berisi informasi lengkap tentang usaha yang akan dilakukan, lokasi dan koordinat wilayah usaha, besaran dan luasan usaha dan hal-hal lain yang perlu disampaikan dan diminta oleh Dinas Lingkungan setempat.

  1. Rona Lingkungan Hidup Awal Didalam Dan Disekitar Lokasi Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan.

Batasan dan jumlah pemantauan pada rona awal sebelum dilakukan kegiatan usaha mengikuti hasil penapisan mandiri dan penapisan dari Dinas Lingkungann setempat. Jenis dan jumlah titik pemantauan rona awal akan kembali disepakati dengan Tim Uji Kelayakan (TUK) saat pengurusan Perling berlangsung.

  1. Konsultasi Publik

Dilakukan untuk memberi pengumuman dan diskusi publik dengan semua stakeholder dan masyarakat sekitar yang diperkirakan akan terdampak oleh usaha pemrakarsa. Syarat-sayarat pelaksnaaan konsultasi publik akan kita bahas di konten berikutnya.

  1. Tim penyusun dan Tenaga Ahli Penyusunan Dokumen Izin Lingkungan

Terbitnya regulasi baru juga menjelaskan beberapa syarat kualifikasi dari tim penyusun izin lingkungan beserta sertifikasi minimal yang harus dimiliki. Izin lingkungan yang berbeda (AMDAL/ RKL/RPL /SPPLH) juga akan memiliki syarat yg berbeda. Detail lengkap mengenai syarat kualifikasi dan sertifikasi tim penyusun ini akan kita bahas secara khusus di konten berikutnya.

Penulis: SR

Editor: AF

Faktor Pembentuk Batubara

Faktor Faktor Pembentuk Batubara

Batubara, sebagai sumber daya alam yang penting dan strategis, mengalami proses pembentukan yang kompleks. Pemahaman mendalam terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan batubara sangat krusial. Dalam konteks ini, penelitian oleh Schlatter’s (1973) memberikan wawasan yang berharga. Mari kita telaah beberapa faktor kunci yang berkontribusi pada pembentukan batubara.

1. Posisi Geotektonik (Geotectonic Position)

Posisi geotektonik mencakup sejumlah variabel penting seperti iklim, morfologi cekungan, kecepatan sedimentasi, dan jenis flora. Dalam daerah dengan aktivitas tektonik tinggi, penurunan cekungan cenderung lebih cepat. Hal ini dapat memengaruhi kualitas dan jenis batubara, serta menciptakan perbedaan petrografi dan kontaminasi mineral.

2. Topografi Purba (Paleotopography)

Morfolgi cekungan memiliki dampak signifikan pada penyebaran rawa-rawa tempat batubara terbentuk. Daerah datar tanpa bukit, khususnya di daerah pantai, ideal untuk pembentukan batubara.

3. Posisi Geografi (Geographical Position)

Posisi geografi, khususnya iklim dan temperatur, memainkan peran penting dalam pertumbuhan tumbuhan pembentuk batubara. Daerah tropis dan subtropis seringkali lebih mendukung pertumbuhan tumbuhan yang subur.

4. Iklim (Climate)

Kelembaban dan suhu iklim memengaruhi perkembangan tumbuhan. Daerah tropis dan basah sering menjadi tempat pembentukan batubara yang tebal dan berkualitas tinggi.

5. Tumbuhan (Flora)

Tumbuhan adalah unsur utama pembentukan batubara. Komposisi kimia tumbuhan, terutama lignin, berdampak pada kualitas dan derajat batubara yang terbentuk.

6. Pembusukan (Decomposition)

Proses pembusukan tumbuhan oleh bakteri dan jamur memainkan peran kunci dalam transformasi bahan organik menjadi gambut, langkah awal dalam pembentukan batubara.

7. Penurunan Dasar Cekungan (Subsidence)

Keseimbangan antara penurunan dasar cekungan dan akumulasi tumbuhan adalah faktor penentu ketebalan lapisan batubara.

8. Waktu Geologi (Geological Age)

Periode geologi tertentu menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan tumbuhan dan akumulasi batubara. Waktu geologi juga berkontribusi pada derajat dan kualitas batubara.

9. Sejarah Setelah Pengendapan (Post-Depositional History)

Posisi geotektonik setelah pengendapan memengaruhi struktur cekungan batubara, termasuk lipatan, sesar, atau terobosan batuan beku.

10. Metamorfosa Organik (Organic Metamorphism)

Proses perubahan dari gambut menjadi batubara, dikenal sebagai metamorfosa organik, dipengaruhi oleh suhu, tekanan, dan faktor-faktor geokimia setelah fase pengendapan.

Pemahaman mendalam terhadap faktor-faktor ini memungkinkan peneliti dan industri untuk merencanakan eksploitasi batubara secara lebih efisien dan berkelanjutan. Dalam evolusi energi global, batubara tetap menjadi pemain penting, dan penelitian lebih lanjut akan terus diperlukan untuk memahami dan mengelola sumber daya ini secara optimal.

 

Source: adigeologist.com

Pengaruh Kompetensi Pekerja Tambang Terhadap Produktivitas Penambangan

Pengaruh Kompetensi Pekerja Tambang Terhadap Produktivitas Penambangan

Skill atau kemampuan pekerja tambang, baik sebagai operator alat maupun engineer memegang peranan yang sangat vital terhadap pencapaian produktivitas penambangan. Skill atau kemampuan pekerja ini pada dasanya dipengaruhi oleh kompetensi yang dimilikinya. Kompetensi yang dimiliki oleh pekerja tambang dapat terkonfirmasi dari sertifikat kompetensi yang dimilikinya.

Skill atau kemampuan pekerja memang tidak bisa diukur dengan angka, namun pengaruh dari skill atau kemampuan pekerja ini akan terlihat pada hasil akhir pekerjaan. Maka dari itu, penting untuk memastikan bahwa pekerja sudah memiliki kompetensi sesuai dengan porsi pekerjaanya.

Selain untuk memastikan kemampuan dasar yang dimiliki oleh pekerja, sertifikasi kompetensi juga terbukti dapat mengurangi angka kelalaian hingga kecelakaan kerja di area tambang. Hal ini dikarenakan, pekerja yang sudah bersertifikat kompetensi cenderung telah memahami dasar-dasar dalam keselamatan kerja.

Pada dasarnya pengaruh kompetensi terhadap produktivitas penambangan adalah sebagai berikut:

1.  Semakin banyak dan semakin baik kompetensi yang dimiliki pekerja tambang, maka nilai produktivitas penambangan cenderung semakin besar.

2.   Semakin banyak pekerja tambang yang bersertfikat kompetensi, tingkat kemungkinan kecelkaan kerja selama aktivitas penambangan cenderung lebih kecil.

Hal-hal yang dapat dilakukan perusahaan terhadap pekerja tambang untuk meningkatkan produktivitas penambangan keseluruhan:

1.   Meningkatkan kompetensi para pekerja melalui kegiatan internal development seperti in-house training atau sharing session sesama pekerja.

2.  Memberi kesempatan pada semua pekerja untuk meningkatkan kompetensi melalui kelas kompetensi bersertifikat resmi, jika perlu perusahaan dapat membiayai pekerja untuk mengikuti kelas kompetensi.

3.     Mencantumkan persyaratan kompetensi minimal pada saat perekrutan pekerja tambang.

4.   Melakukan inspeksi teratur terhadap pemahaman dalam kompetensi dasar pekerja tambang.

Pengaruh Efektitivitas Jam Kerja Terhadap Produktivitas

Pengaruh Efektitivitas Jam Kerja Terhadap Produktivitas

Proses penambangan menuntut efisiensi dan efektifitas dalam pelaksanaanya. Baik dalam hal penggunaan alat berat, penggunaan bahan bakar, pengelolaan sumber daya manusia, hingga pemanfaatan jam kerja. Semua hal ini akan mempengaruhi penambangan secara langsung terutama dalalm hal capaian produktivitas.

Dalam hal pemanfaatan jam kerja, proses penambangan harus memiliki jam kerja yang efektif demi tercapainya target produksi. Perhitungan jam kerja efektif ini biasanya disebut dalam formula jam kerja efektif.

Efektivitas jam kerja atau biasa disebut waktu kerja efektif adalah waktu kerja yang tersedia yang berhasil terkonversi menjadi kerja aktual. Pada dasarnya dari semua waktu kerja yang tersedia tidak akan sepenuhnya terkonversi menjadi kerja aktual, hal ini disebabkan oleh beberapa hal seperti adanya pergantian shift, safety talk, jam istirahat dan lain sebagainya.

Secara formula, waktu kerja efektif biasanya ditulis dalam bentuk persen untuk mengetahui tingkat efektif penggunaan jam kerja tersedia atau jam kerja terencana. Formulanya dapat ditulis sebagai berikut:

Kita mengetahui bahwa jam kerja tersedia didapat dari turunan rencana produksi tambang, kemudian disederhanakna menjadi target produksi tahunan, bulanan hingga harian.

Sementara waktu kerja efektif adalah bentuk aktual dari pelaksanaan waktu kerja tersedia atau yang direncanakan. Karena itulah nilai waktu kerja efektif sangat besar pengaruhnya terhadap produktivitas penambangan secara keseluruhan. Semakin besar persen kerja efeltif maka semakin baik produktiivtas penambangan tersebut.

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan efektivitas jam kerja:

  1. Menghilangkan keterlambatan, pada dasarnya keterlambatan lebih besar dipengaruhi oleh tingkat kedisiplinan para operator alat. Kaerna itu, penting untuk ditugaskan supervisor untuk mengawasi kerja operator agar optimal terhadapa waktu kerja.
  2. Alat dan operator siap sedia. Departemen yang bertanggung jawab terhadapa kesediaan alat harus benar-benar mampu untuk memastikan alat berat siap kerja sesuai dengan waktu kerja yang tersedia. Hal ini juga berlaku untuk operator, operator harus terus dipastikan kehadiran dan kesanggupanya untuk kerja sesuai dengan jam kerja yang tersedia.
  3. Menyusun shift kerja yang optimal, sering kali waktu untuk pergantian shift memakan waktu yang terlalu lama sehingga tidak terkonversi menjadi kerja efektif. Sistem shift kerja harus disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi kebutuhan sesusai dengan waktu kerja tersedia.

Penulis : Richie
Editor: AF