5 Hal Pertama yang Harus Dilakukan Sebelum Mengurus Izin Lingkungan

5 Hal Pertama yang Harus Dilakukan Sebelum Mengurus Izin Lingkungan

kelayakan teknis, ekonomi dan lingkungan. Dalam hal pengurusan kelayakan lingkungan yang dibuktikan dengan Perling terdapat beberapa tahap yang harus dilakukan oleh pemrakarsa.

Berdasarkan regulasi terbaru (PP 22 Tahun 2021), terdapat persyaratan yang harus dipenuhi pemrakarsa sebelum dapat memulai pengurusan Perling. Berikut syarat yang harus dilakukan dan disiapkan:

  1. Melakukan penapisan dokumen lingkungan ke Dinas Lingkungan setempat sesuai dengan jenis industri, kapasitas dan besaran usaha yang akan diajukan. Syarat dan informasi lengkap untuk keperluan penapisan ini dapat dilihat pada lampiran K tentang Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral pada Permen KLHK RI No 4 Tahun 2021.
  2. Deskripsi Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan

Dokumen Deskripsi rencana usaha dan/atau kegiatan berisi informasi lengkap tentang usaha yang akan dilakukan, lokasi dan koordinat wilayah usaha, besaran dan luasan usaha dan hal-hal lain yang perlu disampaikan dan diminta oleh Dinas Lingkungan setempat.

  1. Rona Lingkungan Hidup Awal Didalam Dan Disekitar Lokasi Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan.

Batasan dan jumlah pemantauan pada rona awal sebelum dilakukan kegiatan usaha mengikuti hasil penapisan mandiri dan penapisan dari Dinas Lingkungann setempat. Jenis dan jumlah titik pemantauan rona awal akan kembali disepakati dengan Tim Uji Kelayakan (TUK) saat pengurusan Perling berlangsung.

  1. Konsultasi Publik

Dilakukan untuk memberi pengumuman dan diskusi publik dengan semua stakeholder dan masyarakat sekitar yang diperkirakan akan terdampak oleh usaha pemrakarsa. Syarat-sayarat pelaksnaaan konsultasi publik akan kita bahas di konten berikutnya.

  1. Tim penyusun dan Tenaga Ahli Penyusunan Dokumen Izin Lingkungan

Terbitnya regulasi baru juga menjelaskan beberapa syarat kualifikasi dari tim penyusun izin lingkungan beserta sertifikasi minimal yang harus dimiliki. Izin lingkungan yang berbeda (AMDAL/ RKL/RPL /SPPLH) juga akan memiliki syarat yg berbeda. Detail lengkap mengenai syarat kualifikasi dan sertifikasi tim penyusun ini akan kita bahas secara khusus di konten berikutnya.

Penulis: SR

Editor: AF

Faktor Pembentuk Batubara

Faktor Faktor Pembentuk Batubara

Batubara, sebagai sumber daya alam yang penting dan strategis, mengalami proses pembentukan yang kompleks. Pemahaman mendalam terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan batubara sangat krusial. Dalam konteks ini, penelitian oleh Schlatter’s (1973) memberikan wawasan yang berharga. Mari kita telaah beberapa faktor kunci yang berkontribusi pada pembentukan batubara.

1. Posisi Geotektonik (Geotectonic Position)

Posisi geotektonik mencakup sejumlah variabel penting seperti iklim, morfologi cekungan, kecepatan sedimentasi, dan jenis flora. Dalam daerah dengan aktivitas tektonik tinggi, penurunan cekungan cenderung lebih cepat. Hal ini dapat memengaruhi kualitas dan jenis batubara, serta menciptakan perbedaan petrografi dan kontaminasi mineral.

2. Topografi Purba (Paleotopography)

Morfolgi cekungan memiliki dampak signifikan pada penyebaran rawa-rawa tempat batubara terbentuk. Daerah datar tanpa bukit, khususnya di daerah pantai, ideal untuk pembentukan batubara.

3. Posisi Geografi (Geographical Position)

Posisi geografi, khususnya iklim dan temperatur, memainkan peran penting dalam pertumbuhan tumbuhan pembentuk batubara. Daerah tropis dan subtropis seringkali lebih mendukung pertumbuhan tumbuhan yang subur.

4. Iklim (Climate)

Kelembaban dan suhu iklim memengaruhi perkembangan tumbuhan. Daerah tropis dan basah sering menjadi tempat pembentukan batubara yang tebal dan berkualitas tinggi.

5. Tumbuhan (Flora)

Tumbuhan adalah unsur utama pembentukan batubara. Komposisi kimia tumbuhan, terutama lignin, berdampak pada kualitas dan derajat batubara yang terbentuk.

6. Pembusukan (Decomposition)

Proses pembusukan tumbuhan oleh bakteri dan jamur memainkan peran kunci dalam transformasi bahan organik menjadi gambut, langkah awal dalam pembentukan batubara.

7. Penurunan Dasar Cekungan (Subsidence)

Keseimbangan antara penurunan dasar cekungan dan akumulasi tumbuhan adalah faktor penentu ketebalan lapisan batubara.

8. Waktu Geologi (Geological Age)

Periode geologi tertentu menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan tumbuhan dan akumulasi batubara. Waktu geologi juga berkontribusi pada derajat dan kualitas batubara.

9. Sejarah Setelah Pengendapan (Post-Depositional History)

Posisi geotektonik setelah pengendapan memengaruhi struktur cekungan batubara, termasuk lipatan, sesar, atau terobosan batuan beku.

10. Metamorfosa Organik (Organic Metamorphism)

Proses perubahan dari gambut menjadi batubara, dikenal sebagai metamorfosa organik, dipengaruhi oleh suhu, tekanan, dan faktor-faktor geokimia setelah fase pengendapan.

Pemahaman mendalam terhadap faktor-faktor ini memungkinkan peneliti dan industri untuk merencanakan eksploitasi batubara secara lebih efisien dan berkelanjutan. Dalam evolusi energi global, batubara tetap menjadi pemain penting, dan penelitian lebih lanjut akan terus diperlukan untuk memahami dan mengelola sumber daya ini secara optimal.

 

Source: adigeologist.com

Pengaruh Kompetensi Pekerja Tambang Terhadap Produktivitas Penambangan

Pengaruh Kompetensi Pekerja Tambang Terhadap Produktivitas Penambangan

Skill atau kemampuan pekerja tambang, baik sebagai operator alat maupun engineer memegang peranan yang sangat vital terhadap pencapaian produktivitas penambangan. Skill atau kemampuan pekerja ini pada dasanya dipengaruhi oleh kompetensi yang dimilikinya. Kompetensi yang dimiliki oleh pekerja tambang dapat terkonfirmasi dari sertifikat kompetensi yang dimilikinya.

Skill atau kemampuan pekerja memang tidak bisa diukur dengan angka, namun pengaruh dari skill atau kemampuan pekerja ini akan terlihat pada hasil akhir pekerjaan. Maka dari itu, penting untuk memastikan bahwa pekerja sudah memiliki kompetensi sesuai dengan porsi pekerjaanya.

Selain untuk memastikan kemampuan dasar yang dimiliki oleh pekerja, sertifikasi kompetensi juga terbukti dapat mengurangi angka kelalaian hingga kecelakaan kerja di area tambang. Hal ini dikarenakan, pekerja yang sudah bersertifikat kompetensi cenderung telah memahami dasar-dasar dalam keselamatan kerja.

Pada dasarnya pengaruh kompetensi terhadap produktivitas penambangan adalah sebagai berikut:

1.  Semakin banyak dan semakin baik kompetensi yang dimiliki pekerja tambang, maka nilai produktivitas penambangan cenderung semakin besar.

2.   Semakin banyak pekerja tambang yang bersertfikat kompetensi, tingkat kemungkinan kecelkaan kerja selama aktivitas penambangan cenderung lebih kecil.

Hal-hal yang dapat dilakukan perusahaan terhadap pekerja tambang untuk meningkatkan produktivitas penambangan keseluruhan:

1.   Meningkatkan kompetensi para pekerja melalui kegiatan internal development seperti in-house training atau sharing session sesama pekerja.

2.  Memberi kesempatan pada semua pekerja untuk meningkatkan kompetensi melalui kelas kompetensi bersertifikat resmi, jika perlu perusahaan dapat membiayai pekerja untuk mengikuti kelas kompetensi.

3.     Mencantumkan persyaratan kompetensi minimal pada saat perekrutan pekerja tambang.

4.   Melakukan inspeksi teratur terhadap pemahaman dalam kompetensi dasar pekerja tambang.

Pengaruh Efektitivitas Jam Kerja Terhadap Produktivitas

Pengaruh Efektitivitas Jam Kerja Terhadap Produktivitas

Proses penambangan menuntut efisiensi dan efektifitas dalam pelaksanaanya. Baik dalam hal penggunaan alat berat, penggunaan bahan bakar, pengelolaan sumber daya manusia, hingga pemanfaatan jam kerja. Semua hal ini akan mempengaruhi penambangan secara langsung terutama dalalm hal capaian produktivitas.

Dalam hal pemanfaatan jam kerja, proses penambangan harus memiliki jam kerja yang efektif demi tercapainya target produksi. Perhitungan jam kerja efektif ini biasanya disebut dalam formula jam kerja efektif.

Efektivitas jam kerja atau biasa disebut waktu kerja efektif adalah waktu kerja yang tersedia yang berhasil terkonversi menjadi kerja aktual. Pada dasarnya dari semua waktu kerja yang tersedia tidak akan sepenuhnya terkonversi menjadi kerja aktual, hal ini disebabkan oleh beberapa hal seperti adanya pergantian shift, safety talk, jam istirahat dan lain sebagainya.

Secara formula, waktu kerja efektif biasanya ditulis dalam bentuk persen untuk mengetahui tingkat efektif penggunaan jam kerja tersedia atau jam kerja terencana. Formulanya dapat ditulis sebagai berikut:

Kita mengetahui bahwa jam kerja tersedia didapat dari turunan rencana produksi tambang, kemudian disederhanakna menjadi target produksi tahunan, bulanan hingga harian.

Sementara waktu kerja efektif adalah bentuk aktual dari pelaksanaan waktu kerja tersedia atau yang direncanakan. Karena itulah nilai waktu kerja efektif sangat besar pengaruhnya terhadap produktivitas penambangan secara keseluruhan. Semakin besar persen kerja efeltif maka semakin baik produktiivtas penambangan tersebut.

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan efektivitas jam kerja:

  1. Menghilangkan keterlambatan, pada dasarnya keterlambatan lebih besar dipengaruhi oleh tingkat kedisiplinan para operator alat. Kaerna itu, penting untuk ditugaskan supervisor untuk mengawasi kerja operator agar optimal terhadapa waktu kerja.
  2. Alat dan operator siap sedia. Departemen yang bertanggung jawab terhadapa kesediaan alat harus benar-benar mampu untuk memastikan alat berat siap kerja sesuai dengan waktu kerja yang tersedia. Hal ini juga berlaku untuk operator, operator harus terus dipastikan kehadiran dan kesanggupanya untuk kerja sesuai dengan jam kerja yang tersedia.
  3. Menyusun shift kerja yang optimal, sering kali waktu untuk pergantian shift memakan waktu yang terlalu lama sehingga tidak terkonversi menjadi kerja efektif. Sistem shift kerja harus disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi kebutuhan sesusai dengan waktu kerja tersedia.

Penulis : Richie
Editor: AF

 

Perbedaan Tiga Jenis Tujuan Pengeboran

Proses pertambangan secara keseluruhan tidak bisa lepas dari proses eksplorasi sebagai tonggak awal proses pertambangan layak dimulai atau tidak. Salah satu proses eksplorasi yang wajib untuk dilakukan untuk memastikan data eksplorasi dengan benar adalah tahap pengeboran. Pengeboran dalam pertambangan memiliki beberapa jenis sesuai dengan tujuan dan output yang diinginkan.

Tiga jenis pengeboran utama dalam pertambangan adalah pengeboran eksplorasi, pengeboran geotekik dan pengeboran hidrologi. Apa saja perbedaan dalam ketiga jenis pengeboran ini, selengkapnya bisa dilihat dalam tabel berikut:

 

Compare
Explorasi
Geoteknik
Hidrologi

Fungsi

Untuk mencari sumber daya atau tambahan cadangan guna memperpanjang usia pertambangan

untuk mengetahui kekuatan batuan, daya dukung batuan dan kemiringan lereng maksimal.

Untuk mengetahui pengaruh air tanah, debit, recovery air tanah, Aquifer, dan pengaruhnya terhadap lingkungan.

Jenis lubang pengeboran

Touch Core, Open hole, Full core

Full Core

Open hole

Luasan

seluas IUP pertambangan

sepanjang Design pit, atau bangunan

di tempat yang mau di dewatering, atau di uji standard air nya

Sample

Batuan yang di cari ( batubara, ore, etc)

seluruh litologi dalam titik bor

no sample

Laporan

Hasil Eksplorasi

Kajian Geoteknik

Kajian Hidrogeologi

Metode

Geofisika ( Well-log), Geolistrik

Geolistrik, Pumping Test, Slag Test

Waktu

Sepanjang Usia Pertambangan

Saat pembukaan Pit, atau Bangunan

Saat pembukaan Pit, atau Bangunan

Hasil

Rencana Kemajuan Pertambangan

Sudut yang aman, kekuatan pondasi, pencegahan longsor,

pengaruh air tanah terhadap lingkungan, set pompa, dan setting pond.

Peralatan

Alat bor dan kru

Alat bor dan kru

Alat bor, kru, mesin Pump.

 
Penulis : Siti Rohmah

Editor : AF

paparan-studi-kelayakan-dan-laporan-eksplroasi-pt-bsw

Paparan Dokumen Studi Kelayakan PT. Bima Shabartum Wijaya

paparan-studi-kelayakan-dan-laporan-eksplroasi-pt-bsw

Paparan Dokumen Studi Kelayakan PT. Bima Shabartum Wijaya: Menuju Peningkatan IUP Operasi Produksi

Lokasi: Kec. Buana Pemaca, Kab. Ogan Komering Ulu Selatan, Prov. Sumatera Selatan

  1. Bima Shabartum Wijaya baru-baru ini memaparkan hasil Studi Kelayakan dan Laporan Eksplorasi yang dilaksanakan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Kegiatan ini merupakan salah satu langkah penting dalam proses peningkatan perizinan IUP Operasi Produksi yang sesuai dengan peraturan pemerintah terbaru. Proses ini mengacu pada PP 96 Tahun 2021 tentang pelaksanaan kegiatan pertambangan mineral dan batubara, yang mengharuskan setiap perusahaan pertambangan untuk memenuhi berbagai persyaratan hukum sebelum mendapatkan izin operasi penuh.

Peningkatan Perizinan IUP Operasi Produksi

Proses studi kelayakan dan penyusunan laporan eksplorasi ini penting untuk memastikan kelayakan operasional dari tambang yang dikelola. IUP Operasi Produksi adalah tahap lanjutan dalam izin usaha pertambangan yang memungkinkan perusahaan untuk mulai melakukan kegiatan produksi. PT. Bima Shabartum Wijaya terus berupaya memenuhi syarat perizinan ini guna memaksimalkan potensi tambang andesit yang ada di kawasan tersebut.

Fokus pada Komoditas Andesit yang Potensial

Dalam kegiatan eksplorasi ini, PT. Bima Shabartum Wijaya memfokuskan pada komoditas andesit, batuan beku yang banyak digunakan dalam industri konstruksi. Andesit dikenal sebagai material yang kuat dan tahan lama, sangat ideal untuk infrastruktur seperti jalan, jembatan, serta berbagai proyek bangunan lainnya.

Potensi Andesit di Desa Damarpura, OKU Selatan

Salah satu lokasi strategis yang diidentifikasi oleh tim eksplorasi adalah Desa Damarpura di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Desa ini memiliki cadangan andesit yang melimpah, dengan estimasi produksi hingga 2.025.000 ton andesit selama lima tahun ke depan. Sumber daya ini tidak hanya menjadi aset penting bagi PT. Bima Shabartum Wijaya, tetapi juga menjadi solusi bagi kebutuhan material konstruksi berkualitas di Indonesia.

Keunggulan Andesit untuk Konstruksi

Andesit merupakan pilihan utama untuk berbagai proyek infrastruktur karena keunggulannya:

  • Tahan Lama: Memiliki ketahanan yang tinggi terhadap cuaca ekstrem dan tekanan.
  • Kuat: Cocok untuk proyek besar seperti pembangunan jalan, dinding penahan, serta pondasi bangunan.
  • Ketersediaan Melimpah: Dengan sumber daya yang besar, proyek-proyek besar dapat didukung oleh pasokan yang stabil dan berkelanjutan.

Peluang Investasi di PT. Bima Shabartum Wijaya

Dengan potensi sumber daya andesit yang besar, PT. Bima Shabartum Wijaya membuka peluang investasi yang sangat menguntungkan. Keuntungan dari investasi ini meliputi:

  • Ketersediaan Sumber Daya: Andesit berkualitas tinggi yang dapat diproduksi dalam jumlah besar.
  • Proses Legal yang Jelas: PT. Bima Shabartum Wijaya mengikuti semua regulasi pertambangan terbaru, termasuk PP 96 Tahun 2021, sehingga memastikan kelancaran operasional jangka panjang.
  • Potensi Pasar yang Besar: Meningkatnya pembangunan infrastruktur di Indonesia membutuhkan pasokan bahan konstruksi yang stabil dan berkualitas.

Hubungi Kami untuk Kesempatan Investasi

Bima Shabartum Wijaya siap menjadi mitra terbaik Anda dalam menyediakan andesit berkualitas tinggi. Jangan lewatkan peluang investasi dalam industri tambang andesit yang menjanjikan di Sumatera Selatan. Hubungi kami sekarang untuk informasi lebih lanjut dan mulai bekerjasama dalam proyek yang menguntungkan ini.

📞 Untuk layanan konsultan tambang dan lingkungan, hubungi kami: Telp: 0711-411407

WhatsApp: +62823-7472-2113
Email: admin.palembang@bimashabartum.co.id
Website: bimashabartum.co.id
Mengawal Kepatuhan Lingkungan PT Pendopo Energi Batubara Melalui Pemantauan RKL-RPL Semester II

Proyek £21 Miliar Terancam Batal

Proyek £21 Miliar Terancam Batal: Pelajaran Penting dari Konflik Sosial Tambang Emas Omagh Berapa pun besarnya nilai investasi sebuah proyek pertambangan, semuanya bisa runtuh jika

Read More »

Pengaruh Efisiensi Penggunaan Alat Terhadap Target Produktivitas

Produktivitas pertambangan secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh produktivitas masing-masing alat berat. Karena itu menghitung efisiensi penggunaan alat berat menjadi sangat penting.

Secara umum terdapat 4 hitungan yang dapat mempresentasikan tingkat efisiensi penggunaan alat berat, yaitu PA, MA, UA, dan EU. Nilai-nilai ini bisa anda dapatkan melalui timesheet yang biasanya diisi oleh operator unit. Melalui timesheet tersebut, anda harus mendapatkan:

  1. Jam Operasi : total jam unit bekerja
  2. Jam Standby : total jam unit standby/idle karena faktor eksternal seperti hujan, jalan rusak, istirahat, dll.
  3. Jam Breakdown : total jam maintenance karena faktor internal seperti adanya kerusakan, service maintenance unit, dll.
  4. Jam Kerja : total keseluruhan aktivitas unit pada hari tersebut. Jam Kerja bisa anda dapatkan dengan menggabungkan seluruh hasil Jam Operasi, Jam Standby, dan Jam Breakdown

1. Kesediaan Mekanik (Mechanical Availability / MA)

Faktor yang menunjukkan kesediaan alat dalam melakukan pekerjaan dengan memperhatikan kehilangan waktu yang digunakan untuk memperbaiki mesin, perawatan dan alasan mekanis lainnya. Jika kesediaan mekanis kecil maka kondisi mekanis alat kurang baik dan jam perbaikan alat tinggi. Formulanya dapat ditulis sebagai berkut:

2. Kesediaan Fisik (Physical Availability)

Faktor yang menunjukkan kesediaan alat untuk melakukan kerja dengan memperhatikan waktu yang hilang karena rusaknya jalan, faktor cuaca dan lain-lain. Jika kesediaan fisik lebih besar dari kesediaan mekanis, berarti bahwa alat belum digunakan sesuai dengan kemampuannya.

3. Kesediaan Penggunaan (Use Availability)

Faktor yang menunjukkan efisiensi kerja alat selama waktu kerja yang tersedia dimana kondisi alat tidak rusak. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa efektif alat yang tidak rusak dimanfaatkan dan menjadi ukuran seberapa baik pengelolaan peralatan yang digunakan. Persentase rendah menunjukkan bahwa pengoperasian alat belum maksimal.

4. Penggunaan Efektif (Effective Utilization)

Faktor yang menunjukkan berapa persen dari seluruh waktu kerja yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk bekerja atau persen waktu yang dimanfaatkan oleh alat untuk bekerja dari sejumlah waktu kerja yang tersedia.

Singkatnya, jika keempat nilai diatas semakin besar akan menghasilkan nilai produktivitas penambangan yang semakin besar pula. Upaya-upaya yang bisa dilakukan agar keempat parameter ini bernilai besar adalah:

  1. Maintenance alat secara teratur sesuai dengan history kendaraan, hindari maintenance alat hanya saat ada trouble Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadi breakdown yang memakan waktu yang lama.
  2. Maksimalkan jam kerja yang tersedia, hal-hal mendetail mengenai jam kerja akan kita bahas di SiBima Edu berikutnya.
  3. Pengawasan operator, untuk memastikan operator memaksimalkan waktu kerja alat.
  4. Pastikan fleet alat berat memiliki match factor yang optimal sehingga tidak ada waktu standyby yang tersedia.

Author By Richie

Editor By AF                                                                                                                                                                      

Pengaruh Kapasitas Alat Terhadap Produktivitas Penambangan

Optimalkan Produktivitas Pertambangan dengan Pemilihan Alat Berat yang Tepat

Pertambangan adalah industri yang tidak bisa dilepaskan dari peran vital alat berat. Bagaimana kita memilih dan menggunakan alat berat ini akan berdampak langsung pada produktivitas keseluruhan operasi pertambangan. Berikut adalah beberapa pertimbangan kunci dalam memilih kapasitas alat berat untuk memastikan pencapaian target produksi yang optimal.

1. Biaya Investasi yang Proporsional

Pemilihan kapasitas alat berat harus sejalan dengan target produksi, namun juga perlu mempertimbangkan biaya investasi awal. Semakin besar kapasitas, semakin tinggi biaya investasinya. Oleh karena itu, perlu keseimbangan yang tepat agar biaya investasi tidak melonjak tanpa kebutuhan yang sesuai.

2. Biaya Produksi dan Modal Kerja

Kapasitas alat berat berpengaruh langsung pada biaya produksi. Alat dengan kapasitas besar membutuhkan biaya operasional yang lebih tinggi, termasuk maintenance, bahan bakar, oli, sparepart, dan biaya operator. Analisis modal kerja harus cermat untuk memastikan kelancaran operasional tanpa membebani keuangan perusahaan.

3. Cycle Time yang Efisien

Alat gali muat dengan kapasitas besar cenderung memiliki cycle time yang lebih kecil. Namun, efisiensi ini juga dipengaruhi oleh volume vessel alat angkut. Pemilihan alat berat harus memperhatikan kesepadanan antara alat gali muat dan alat angkut untuk mencapai cycle time yang optimal.

4. Kajian Tekno-Ekonomi yang Mendalam

Pada tahap perencanaan, kajian tekno-ekonomi menjadi kunci. Kesepadanan antar alat berat, jenis pekerjaan, luas area kerja, jenis material galian, ground pressure, daya dukung tanah, dan target produksi harus menjadi fokus utama. Memahami kondisi-kondisi ini akan membantu dalam pemilihan alat berat yang sesuai.

5. Keselamatan dan Efisiensi

Penting untuk mencapai keseimbangan antara kapasitas alat berat dan faktor-faktor keselamatan serta efisiensi kerja. Alat dengan kapasitas besar dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga memerlukan perhatian ekstra terhadap aspek keselamatan dan pengelolaan efisiensi operasional.

6. Kontekstualisasi dengan Target Produksi

Setiap fleet alat kerja di tambang memiliki target produksi yang harus disesuaikan dengan target produksi penambangan secara keseluruhan. Kapasitas alat berat yang dipilih harus mendukung pencapaian target ini tanpa mengorbankan faktor-faktor lain yang krusial.

Kesimpulan: Produktivitas Melalui Pemilihan Alat yang Tepat

Pemilihan kapasitas alat berat bukan keputusan sepele. Dengan memahami dampaknya pada biaya, efisiensi, dan keselamatan, perusahaan pertambangan dapat mengoptimalkan produktivitas mereka. Kajian tekno-ekonomi yang mendalam dan kontekstualisasi dengan kondisi kerja nyata akan menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi tantangan pertambangan modern. Dengan langkah-langkah ini, industri pertambangan dapat terus berkembang menuju masa depan yang lebih produktif dan berkelanjutan.

 

Penulis: Richie

Editor: AF

Perbedaan Eksplorasi Pedahuluan dan Detail (Lanjutan)

202209018-eksplorasi-pendahuluan_01
PENGERTIAN Eksplorasi 

Adalah tahapan yang wajib dilaksanakan sebelum proses penambangan dimulai. Eksplorasi dilakukan untuk memastikan lokasi dan besaran sumberdaya yang direncanakan akan ditambang. Pada pelaksanaanya terdapat dua jenis eksplorasi yang harus dilaksanakan, yaitu eksplorasi pendahuluan dan eksplorasi lanjutan atau yang biasa disebut dengan eksplorasi detail. Pada dasarnya, kedua hal ini masing-masing harus dilaksanakan.

Eksplorasi pendahuluan 

Merupakan eksplorasi awal untuk mengkonfirmasi keberadaan suatu sumberdaya secara umum, sedangkan 

eksplorasi detail 

Yaitu upaya eksplorasi lanjutan untuk melihat dan menilai suatu sumberdaya apakah layak atau tidaknya untuk dikonversi sebagai cadangan. Perbedaan kedua hal ini terdiskripsi secara rinci pada tabel berikut:

Compare

Explorasi Pendahuluan

Explorasi lanjutan (detail)

Definisi

eksplorasi yang di lakukan untuk mencari potensi sumberdaya pada daerah tersebut.

Eksplorasi lanjutan dari eksplorasi pendahuluan, untuk memperkirakan atau estimasi sumberdaya berubah menjadi cadangan.

Fungsi

Melakukan menyelidikan Geologi untuk mendapatkan sumberdaya/pontensi daerah tersebut

menetukan arah kemajuan pertambangan,

mengatahui luasan pertambangan atau sumberdaya yang paling mudah di tambang

Cadangan masa depan dan umur tambang

penetuan Zona ekonomis dan overburden

Mencari potensi cadangan atau sumber daya baru

Prinsip Kerja

melakukan Pemetaan Geologi dengan menggunakan dari peneliti terdahulu, atau penelitian di sekitar wilayah IUP, untuk mendapatkan data yang mendekati wilayah IUP

melakukan pemetaan lanjutan. Guna untuk menetukan kemajuan pertambangan dan besarnya cadangan dari pontesi sumberdaya. Serta memaksimalkan semua potensi yang ada

Hasil

berupa Model Geologi awal dan potensi pertambangan

model geologi serta model pengendapan mineral/batuan, model jebakan, dan lain-lain

Berupa Peta geologi, Perkiraan sumber daya per 500m

Peta Cadangan, peta Sumber daya, ketebalan lapisan per 100 m, luas cadangan dan sumberdaya

kelebihan

merupakan data awal dari pertambangan dan pontesi awal bukaan tambang

Data Primer banyak

belum banyak melakukan pembukaan lahan

Stratigrafi batuan terlihat jelas sehingga mudah mengetahui arah pertambangan dan proyeksi kemajuan pertambangan, serta bahaya geologi yang mengancam pekerjaan

sedikit isu social selama eksplorasi

mudah mendapatkan sample uji

sedikit melakukan Pengujian baik geofisika, maupun uji kualitas pada batuan

Banyak Fasiltas pendukung

Lebih murah biaya dari ekplorasi detail

banyak tenaga ahli sedikit membutuhkan tenaga lokal

Kekurangan

Data hanya berupa singkapan  yang tersingkap di sungai

banyak melakukan bukaan lahan

Pembuatan paritan untuk mendapatkan data

terdapat banyak isu sosial pada saat pelaksanan eksplorasi

data pengeboran jarak jauh kurang lebih 500m

banyak melakukan pengujian geofisika, pengeboran, serta kualitas Batuan

Susah mendapatkan sample uji

lebih mahal kerena sample lebih banyak

tidak adanya Fasilitas pendukung

tenaga ahli sedikit dan kebanyakan tenaga lokal

data Primer sedikit kebanyakan data sekunder atau tersier

Bima Shabartum sebagai konsultan pertambangan yang sudah berpengalaman, dapat membantu anda dalam melaksanakan eksplorasi, baik eksplorasi pendahuluan maupun eksplorasi detail. Sepanjang tahun 2022 ini, Bima Shabartum sudah melakukan pengeboran eksplorasi di empat perusahaan yang berbeda.

Author By Januar

Editor By AF

Faktor Keserasian Kerja (Match factor)

ktor Keserasian Kerja (Match factor)

Dalam proses penambangan, tidak diragukan lagi akan melibatkan alat berat yang tidak sedikit dan pastinya akan memakan biaya yang besar. Karena itu dalam memanfaatkan alat berat harus dilakukan dengan efisien dan efektif untuk menekan biaya produksi. Untuk mencapai ini, jumlah alat angkut dan alat gali muat harus seimbang sesuai dengan proporsinya. Keseimbangan jumlah kedua alat berat ini disebut sebagai faktor keserasian alat (Match factor) (Kadir, 2008). Pada dasarnya, match factor adalah nilai perbandingan jumlah dan waktu kerja (cycle time) dari alat gali muat dan alat angkut, formulanya dapat ditulis sebagai berikut:

Keterangan:

MF             =   Match factor

Na             =   Jumlah alat angkut

Nm            =   Jumlah alat muat

Cta            =   Waktu edar alat angkut (menit)

Ctm           =   Waktu edar alat muat (menit)

n                 =   Frekuensi pengisian truk

dilihat dari formula diatas, maka terdapat 

Faktor – faktor yang mempengaruhi nilai match factor :

  • Jumlah alat angkut yang ada di satu fleet, semakin banyak alat angkut nilai match factor akan semakin besar.
  • Cycle time dari masing-maisng alat angkut dan alat gali
  • Kapasitas dari alat muat dan angkut dalam sekali cycle time.
  • Jarak pengangkutan, semakin jauh jarak pengangkutan maka semakin besar nilai cycle time alat angkut sehingga semakin kecil nilai match factor.


Dari hasil perhitungan akan didapatkan nilai sebagai berikut (Nujum, dkk, 2015) :

  1. Faktor keserasian yang bernilai > 1 menunjukkan bahwa alat angkut akan sering menganggur karena menunggu alat muat.
  2. Faktor keserasian yang bernilai < 1 menunjukkan bahwa alat muat akan sering menganggur atau berhenti bekerja karena menunggu alat angkut.
  3. Faktor keserasian yang bernilai 1 menunjukkan bahwa kerja alat muat tersebut sudah serasi dimana keduanya akan sama sibuknya atau tak ada yang perlu menunggu.

Dalam kondisi dilapangan, faktor keresian alat angkut dan alat muat sangat di rekomendasikan mendekati nilai 1 tetapi jika memilih antara lebih atau kurang dari satu. Opsi yang sering dipilih adalah yang kurang dari satu karena ketika excavator yang menunggu, excavator masih dapat melakukan kegiatan lain seperti melakukan coal cleaning di tambang batubara untuk mengekspose batubara .sedangkan ketika alat angkut yang menunggu maka akan menghabiskan pasokan dari bahan bakar ketika menunggu.

Dalam produktivitas penambangan yang baik, match factor diusahakan mendekati satu tapi tidak lebih dari satu. Sehingga waktu kerja dari alat berat sebesar mungkin terkonversi menjadi kerja produktif. Dalam beberapa kondisi, nilai matcn factor lebih dari satu juga memiliki produktivitas yang baik, namun akan mengkonsumsi bahan bakar yang lebih banyak dan bisa berakhir menjadi pemborosan.