Pertambangan Emas di Indonesia: 5 Fakta Menarik yang Harus Kamu Ketahui

Indonesia, sebagai salah satu produsen emas terbesar di dunia, memiliki sejumlah fakta menarik terkait pertambangan emas yang perlu kamu ketahui. Simak informasi berikut untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut:

  1. Cadangan Emas yang Luas

Cadangan emas di Indonesia tersebar di berbagai pulau, termasuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Keberagaman ini menandakan potensi besar yang dimiliki Indonesia dalam industri pertambangan emas.

  1. Sejarah Panjang Pertambangan Emas

Aktivitas penambangan emas di Indonesia tidaklah baru. Bahkan, sudah ada sejak zaman Majapahit, di mana emas digunakan sebagai mata uang dan perhiasan. Warisan sejarah ini mencerminkan keberlanjutan industri pertambangan emas di tanah air.

  1. Jenis Tambang yang Beragam

Indonesia tidak hanya memiliki tambang emas di darat, tetapi juga tambang emas bawah laut. Keanekaragaman ini menunjukkan potensi sumber daya emas yang dapat dieksplorasi di berbagai lokasi dan kedalaman.

  1. Realisasi Produksi Emas

Pada tahun 2022, realisasi produksi emas di Indonesia mencapai angka mengesankan sebesar 34,39 ribu ton. Capaian ini menegaskan peran signifikan Indonesia dalam menyumbang pasokan emas global.

Selain menjadi produsen, Indonesia juga memiliki tingkat konsumsi emas yang tinggi, terutama dalam bentuk perhiasan. Hal ini mencerminkan nilai dan popularitas emas sebagai perhiasan yang sangat dihargai di masyarakat.

Dengan segala potensi dan sejarahnya, pertambangan emas di Indonesia terus berkembang, memberikan kontribusi penting baik dari segi produksi maupun konsumsi. Fakta-fakta ini menggarisbawahi peran kunci Indonesia dalam industri pertambangan emas secara global.

Sibima Goes To Campus: Menyemai Ilmu Pemetaan dan Pengukuran Surveying di Universitas Sriwijaya Indralaya

Sibima, bekerja sama dengan Cikara Buana dan Bima Shabartum Group, menggelar acara pelatihan pemetaan dan pengukuran surveying di Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya Indralaya. Inisiatif ini, yang diberi nama “Sibima Goes To Campus,” membawa keahlian dalam pertambangan kepada mahasiswa, membangun jembatan antara dunia perkuliahan dan industri.

 

Menggali Potensi Mahasiswa di Pertambangan

Sibima Goes To Campus bertujuan untuk memberikan wawasan praktis kepada mahasiswa mengenai pemetaan dan pengukuran surveying dalam konteks pertambangan. Acara ini tidak hanya menjadi forum bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi potensi mereka dalam bidang ini, tetapi juga sebagai kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan praktisi industri.

 

Kolaborasi dengan Cikara Buana dan Bima Shabartum Group

Kerjasama dengan Cikara Buana dan Bima Shabartum Group menjadikan acara ini lebih kaya dengan pengalaman praktis dan wawasan industri. Para ahli dari kedua perusahaan membimbing mahasiswa melalui pelatihan, berbagi pengetahuan, dan memberikan pandangan mendalam mengenai pemetaan dan pengukuran surveying dalam konteks pertambangan modern.

Program Pelatihan Holistik

Acara ini mencakup serangkaian program pelatihan holistik, mulai dari teori dasar hingga aplikasi praktis di lapangan. Mahasiswa diajak untuk memahami prinsip-prinsip pemetaan, teknik pengukuran surveying, hingga penerapan teknologi terkini dalam industri pertambangan.

 

Langkah Strategis Menuju Profesionalisme

“Sibima Goes To Campus” bukan hanya tentang memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga menekankan pentingnya pengembangan keterampilan interpersonal, kepemimpinan, dan kerja tim. Ini merupakan langkah strategis menuju profesionalisme, mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi tantangan di dunia kerja yang sesungguhnya.

 

Peluang Magang dan Kerjasama Industri

Melalui acara ini, mahasiswa memiliki peluang untuk mengeksplorasi kemungkinan magang dan kerjasama dengan Cikara Buana dan Bima Shabartum Group. Ini menjadi peluang langka untuk merasakan atmosfer dunia kerja dan membangun jaringan yang berharga untuk masa depan karir mereka.

 

Mendorong Kolaborasi Berkelanjutan

Sibima Goes To Campus bukanlah sekadar satu acara, tetapi langkah awal untuk mendorong kolaborasi berkelanjutan antara dunia pendidikan dan industri. Dengan membawa praktisi industri ke dalam lingkungan perkuliahan, mahasiswa dapat lebih mudah mengenali kebutuhan industri dan mengasah keterampilan yang sesuai.

 

Kesimpulan

“Sibima Goes To Campus” menjadi langkah positif dalam memajukan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang pemetaan dan pengukuran surveying. Dengan kolaborasi yang kuat antara Sibima, Cikara Buana, dan Bima Shabartum Group, acara ini bukan hanya memberikan pengetahuan praktis, tetapi juga membuka pintu bagi mahasiswa untuk meraih peluang dan menggali potensi mereka dalam industri pertambangan yang dinamis.

Perbedaan Bahan Peledak: High Explosives dan Low Explosives

Bahan peledak memegang peran vital dalam berbagai sektor, dari militer hingga pertambangan. Dalam konteks ini, jenis bahan peledak campuran menjadi fokus, terbagi menjadi dua kategori utama: High Explosives dan Low Explosives.

 

  1. High Explosives: Power di Ujung Jari Anda

High explosives, atau bahan peledak kuat, menonjol dengan kemampuannya yang luar biasa. Digunakan baik untuk keperluan militer, sipil, maupun pertambangan, high explosives dirancang sebagai penghancur, pembelah, dan pemotong. Beberapa karakteristiknya termasuk kecepatan peledakan (vod) yang tinggi, mencapai 4000 m/s, serta tekanan impact dan kepadatan yang tinggi. Contoh bahan peledak kuat meliputi amatol, dinamit, C4, dan lainnya.

 

  1. Low Explosives: Propelan untuk Kebutuhan Khusus

Low explosives, atau bahan peledak lemah, berperan sebagai propelan atau bahan pendorong. Perubahan kimianya terjadi di bawah kecepatan suara. Bubuk hitam (black powder), bubuk tak berasap (smokeless powder), serta propelan roket dan cair, adalah contoh bahan peledak lemah. Meskipun tidak sekuat high explosives, namun mereka memiliki peran penting dalam berbagai aplikasi.

 

Pemahaman yang baik tentang perbedaan antara high explosives dan low explosives penting untuk keamanan dan efektivitas penggunaan bahan peledak dalam berbagai konteks. Dengan demikian, pengetahuan mengenai karakteristik dan aplikasi masing-masing jenis bahan peledak dapat meningkatkan efisiensi dan keamanan penggunaannya.

 

Penulis: Asa & Putri

Sejarah dan Perkembangan Pertambangan Emas di Indonesia

Mengungkap Jejak Emas: Sejarah dan Perkembangan Pertambangan Emas di Indonesia

Pertambangan emas di Indonesia memiliki akar sejarah yang mendalam, dimulai sejak abad ke-4 dengan tambang alluvial distrik Cina di Kalimantan Barat. Seiring berjalannya waktu, pertambangan emas terus berkembang dan mencapai puncaknya pada tahun 1980-an. Era ini ditandai dengan minat tinggi dari 104 perusahaan yang berinvestasi dalam pertambangan emas di Indonesia.

 

Tonggak Sejarah Pertambangan Emas

Pertambangan emas di Indonesia dimulai dari aktivitas alluvial di distrik Cina, Kalimantan Barat, pada abad ke-4. Sejak itu, kekayaan alam Indonesia dalam bentuk emas menjadi magnet bagi perusahaan pertambangan. Pada tahun 1980-an, minat investor semakin meningkat, mengundang partisipasi dari 104 perusahaan yang melihat potensi besar dalam industri ini.

 

Puncak Produksi Emas di Tahun 1990

Tahun 1990 menjadi tonggak sejarah penting bagi pertambangan emas di Indonesia. Beberapa perusahaan besar seperti PT ANTAM, PT AMPALIT MAS PERDANA, PT ARATUT, dan lainnya, berhasil menghasilkan emas dalam jumlah besar. Total produksi pada tahun itu mencapai 10.995 ton, menandai kontribusi signifikan Indonesia dalam industri emas global.

 

Keberlanjutan Pertambangan Emas di Indonesia

Saat ini, Indonesia duduk di peringkat ke-6 sebagai negara dengan cadangan emas terbesar di dunia. Dengan cadangan mencapai 2600 metrik ton, Indonesia memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan global akan emas. Total cadangan yang tercatat sebesar 2600 ton/tahun menunjukkan keberlanjutan pertambangan emas di negeri ini.

 

Peran PT ANTAM dan Perusahaan Lainnya

PT ANTAM, bersama dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya, telah memainkan peran kunci dalam memajukan industri pertambangan emas di Indonesia. Keterlibatan mereka tidak hanya mencakup produksi, tetapi juga menggali inovasi dan praktik berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam.

 

Tantangan dan Peluang di Masa Depan

Meskipun sukses, pertambangan emas di Indonesia juga dihadapkan pada tantangan, termasuk keberlanjutan lingkungan dan regulasi yang semakin ketat. Namun, dengan terus berinovasi dan beradaptasi, industri ini dapat terus menjadi kontributor utama bagi perekonomian Indonesia.

 

Kesimpulan

 

Sejarah pertambangan emas di Indonesia membuktikan perjalanan yang mengesankan, dari tambang alluvial pada abad ke-4 hingga menjadi pemain utama dalam industri global. Dengan cadangan emas yang melimpah, Indonesia memiliki potensi besar untuk terus menjadi kekuatan dalam pertambangan emas dunia. Dengan terus menjaga keberlanjutan dan inovasi, masa depan pertambangan emas di Indonesia terlihat cerah dan menjanjikan.

Rapat Pemeriksaan UKL-UPL PT Bima Shabartum Wijaya

Dalam rangka memastikan keberlanjutan lingkungan hidup di Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Lingkungan Hidup menggelar rapat pemeriksaan formulir Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL) PT Bima Shabartum Wijaya. Rapat ini menjadi momentum penting untuk memastikan perusahaan tetap mematuhi standar lingkungan yang telah ditetapkan.

 

Latar Belakang Rapat

PT Bima Shabartum Wijaya, sebagai pelaku bisnis di bidang [tuliskan bidang usaha], telah berkomitmen untuk menjaga keseimbangan lingkungan seiring dengan pertumbuhan bisnisnya. Rapat pemeriksaan UKL-UPL di Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Selatan menjadi wujud kerjasama antara sektor industri dan pemerintah dalam menjaga kualitas lingkungan.

 

Agenda Rapat

Rapat ini difokuskan pada pemeriksaan formulir UKL-UPL PT Bima Shabartum Wijaya, yang mencakup berbagai aspek strategis, antara lain:

 

  1. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL): Evaluasi tindakan yang diambil perusahaan untuk mengelola dampak lingkungan dari kegiatan operasionalnya.
  1. Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL): Pemeriksaan terhadap metode dan sistem yang digunakan perusahaan dalam memantau dampak lingkungan secara berkelanjutan.
  1. Kepatuhan Terhadap Regulasi: Memastikan bahwa PT Bima Shabartum Wijaya tetap mematuhi semua regulasi lingkungan yang berlaku di Provinsi Sumatera Selatan.

Langkah-langkah Proaktif PT Bima Shabartum Wijaya

Dalam rapat ini, PT Bima Shabartum Wijaya dapat menyoroti langkah-langkah proaktif yang diambil untuk memitigasi dampak lingkungan. Ini mencakup investasi dalam teknologi ramah lingkungan, kebijakan pengelolaan limbah yang efisien, dan partisipasi dalam inisiatif pelestarian alam di sekitar wilayah operasional.

 

Kontribusi Terhadap Pembangunan Berkelanjutan

Partisipasi perusahaan dalam rapat pemeriksaan UKL-UPL mencerminkan tanggung jawab sosial dan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan. Langkah-langkah yang diambil untuk mengurangi dampak lingkungan dapat menjadi inspirasi bagi sektor industri lainnya untuk mengadopsi praktik yang serupa.

 

Kerjasama Antara Pemerintah dan Industri

Rapat ini menciptakan platform bagi dialog konstruktif antara pemerintah dan industri. Kerjasama erat antara Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Selatan dan PT Bima Shabartum Wijaya memastikan bahwa kebijakan yang diimplementasikan sesuai dengan kebutuhan lingkungan dan keberlanjutan.

 

Kesimpulan

Rapat pemeriksaan UKL-UPL menjadi langkah positif dalam menjaga kualitas lingkungan hidup di Provinsi Sumatera Selatan. Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah dan industri, diharapkan dapat terus terjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan, menciptakan masa depan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.

 

Penulis: Lesi

Rapat Teknis Penilaian Baku Mutu Air PT Minanga Ogan Tbk

Dalam rangka menjaga kualitas lingkungan hidup, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ogan Komering Ulu menggelar rapat teknis penilaian substansi persetujuan teknis pemanfaatan baku mutu air bersama PT Minanga Ogan Tbk dan Tim Bima Shabartum Group. Rapat ini menjadi tonggak penting dalam mengevaluasi dampak lingkungan yang mungkin timbul dari kegiatan perusahaan.

PT Minanga Ogan Tbk, sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di Perkebunan Kelapa Sawit, telah menjalin kerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ogan Komering Ulu. Rapat teknis ini merupakan wujud komitmen bersama untuk menjaga kualitas air, sesuai dengan peraturan baku mutu yang berlaku.

 

Agenda dan Pembahasan

Rapat ini difokuskan pada penilaian substansi persetujuan teknis pemanfaatan baku mutu air. Tim Bima Shabartum Group turut hadir untuk memberikan pandangan independen terkait implementasi kebijakan lingkungan perusahaan. Beberapa poin utama yang dibahas meliputi:

 

Penilaian Kualitas Air:

 Evaluasi kualitas air yang digunakan oleh PT Minanga Ogan Tbk dan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

 

Kepatuhan Terhadap Baku Mutu:

 Memastikan perusahaan mematuhi standar baku mutu air yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

 

Pemanfaatan Sumber Daya:

 Diskusi mengenai cara efisien pemanfaatan sumber daya air dan upaya perusahaan dalam mengurangi dampak lingkungan.

 

Rencana Perbaikan:

 Identifikasi masalah dan penyusunan rencana perbaikan apabila ditemukan ketidaksesuaian dengan regulasi yang berlaku.

 

Manfaat Lingkungan dan Keberlanjutan

Rapat ini bertujuan tidak hanya untuk memastikan kepatuhan perusahaan terhadap regulasi, tetapi juga untuk meningkatkan manfaat positif terhadap lingkungan sekitar. Langkah-langkah berkelanjutan, seperti penggunaan teknologi ramah lingkungan, dapat menjadi sorotan dalam pembahasan untuk mencapai keberlanjutan jangka panjang.

 

Kontribusi Tim Bima Shabartum Group

Tim Bima Shabartum Group hadir dalam rapat sebagai pihak independen yang membawa pandangan objektif terkait keberlanjutan lingkungan. Kontribusi mereka melibatkan analisis mendalam atas dampak lingkungan yang mungkin dihasilkan oleh kegiatan PT Minanga Ogan Tbk, sekaligus memberikan rekomendasi untuk perbaikan.

 

Kesimpulan

Rapat teknis ini mencerminkan sinergi antara sektor industri dan lingkungan hidup dalam mencapai keseimbangan yang baik. Dengan adanya kerjasama antara PT Minanga Ogan Tbk, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ogan Komering Ulu, dan Tim Bima Shabartum Group, diharapkan dapat terwujud praktek bisnis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

 

Sebagai upaya kolektif, rapat ini menjadi langkah nyata dalam memastikan bahwa kegiatan perusahaan tidak hanya mematuhi regulasi, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap pelestarian lingkungan hidup di Kabupaten Ogan Komering Ulu.

Penulis : Lesi

Rumus Perhitungan Geometri Lubang Ledak pada Jenjang

  1. Burden (B)

B = (Kb x De) / 12

 

Ket.

B          = Burden (Ft)

De       = Diameter lubang ledak (inch)

Kb       = Nisbah burden yang telah dikoreksi

            = Kbstd x AF1 x AF2

Kbstd   = Nisbah burden standar (30)

AF1      = Faktor penyesuaian terhadap bahan peledak

 

Sg       = Spesific gravity bahan peledak yang dipakai

Ve       = Kecepatan ledak bahan peledak yang dipakai (Ft/s)

Sgstd  = Spesific gravity bahan peledak standar (1,2)

Vstd    = Kecepatan ledak bahan peledak standar (12.000 Ft/s)

AF2      = Faktor penyesuaian kerapatan batuan

 

SGstd = Kerapatan batuan standar (160 Lb/Cuft)

SG       = Kerapatan batuan yang diledakkan (Lb/Cuft)

 

  1. Spasi (S)

S = Ks x B

 

Ket.

S   = Spacing (m)

Ks = Spacing ratio, mempunyai nilai antara 1-2

 

  1. Stemming (T)

T = Kt x B

 

Ket.

T   = Stemming (m)

Kt = Stemming ratio, bernilai antara 0,7 – 1

 

  1. Subdrilling (J)

J = Kj x B

 

Ket.

J  = Subdrilling (m)

Kj = Subdrilling ratio, dengan nilai antara 0,2 – 0,4x

 

  1. Kedalaman lubang ledak (H)

H = Kh x B

 

Ket.

H   = Kedalaman lubang ledak (m)

Kh = Hole depth ratio, bernilai antara 1,5 – 4,0

 

  1. Panjang kolom isian (Pc)

Pc = L – T

 

Ket.

Pc = Power charge (m)

L    = Tinggi lubang ledak (m)

T    = Tinggi stemming (m)

 

  1. Tinggi Jenjang (L)

L = 5 x De

 

Ket.

L    = Tinggi jenjang minimum (ft)

De = Diameter lubang ledak (inchi)

 

  1. Powder Factor

PF = n x E/W

 

Ket.

Pf  = Powder factor (kg/m3)

W  = Volume material yang diledakkan (m3)

E   = Berat bahan peledak setiap lubang ledak (kg)

n   = Jumlah lubang ledak

MENGAPA NIKEL BERKEMBANG PESAT DI INDONESIA

Nikel di Indonesia: Pertumbuhan Pesat dan Potensi Masa Depan

 

Nikel telah menjadi salah satu komoditas pertambangan paling penting di Indonesia, mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Artikel ini akan menjelaskan mengapa nikel berkembang begitu cepat di Indonesia dan mengapa hal ini memiliki implikasi penting, terutama dalam konteks energi bersih dan industri global.

  1. Indonesia: Produsen Nikel Terbesar di Dunia:
  • Tahun 2019, Indonesia meraih predikat sebagai produsen bijih nikel terbesar di dunia. Ini menunjukkan potensi besar sumber daya nikel di negara ini.
  1. Sumber Daya Nikel Melimpah:
  • Menurut data Badan Geologi pada tahun 2020, Indonesia memiliki sumber daya nikel yang melimpah, mencapai 11.887 juta ton dengan cadangan sekitar 4.346 juta ton. Ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam industri nikel.
  1. Permintaan Global yang Meningkat:
  • Permintaan nikel terus meningkat di pasar global, terutama untuk teknologi energi bersih. Nikel digunakan dalam pembuatan baterai, khususnya untuk mobil listrik.
  • International Energy Agency (IEA) memprediksi lonjakan permintaan nikel akan mencapai 20 kali lipat hingga tahun 2040, yang menunjukkan potensi pertumbuhan yang luar biasa.
  1. Daerah Pusat Pertambangan Nikel:
  • Daerah-daerah di Sulawesi seperti Kolaka, Morowali, dan Luwu Timur telah menjadi pusat penting untuk pertambangan nikel di Indonesia.
  • Infrastruktur dan akses ke pelabuhan yang baik membuat daerah ini menjadi tempat ideal untuk ekspor nikel ke pasar global.
  1. Kualitas Nikel Indonesia yang Diakui Dunia:
  • Kualitas nikel Indonesia diakui sebagai yang terbaik di dunia. Ini memberikan daya saing yang kuat di pasar internasional.
  • Nikel Indonesia sangat penting dalam industri seperti baja tahan karat, suku cadang mesin, dan kabel.
  1. Larangan Ekspor Biji Nikel:
  • Pemerintah Indonesia telah melarang ekspor biji nikel mentah, mendorong pengembangan industri hilirisasi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan kesempatan kerja di dalam negeri, serta memastikan bahwa nikel diolah di Indonesia sebelum diekspor.
Kesimpulan: 

Nikel telah menjadi salah satu sektor pertambangan terkemuka di Indonesia, dengan sumber daya melimpah dan permintaan global yang terus meningkat. Potensi nikel Indonesia tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mendukung peralihan ke energi bersih melalui baterai untuk mobil listrik. Dengan larangan ekspor biji nikel dan fokus pada industri hilirisasi, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam industri nikel global di masa depan.

 

Mengenal Geometri Peledakan Jenjang pada Tambang Terbuka

Geometri peledakan sangat berpengaruh dalam mengontrol hasil peledakan, seperti fragmentasi batuan, meminimalisir adanya bongkah, kondisi jenjang yang lebih stabil, keamanan alat-alat mekanis dan keselamatan pekerja.

 

  1. Burden (B) adalah jarak tegak lurus antara lubang ledak terhadap bidang bebas terdekat dan merupakan arah pemindahan batuan (displacement) akan terjadi. Faktor yang harus diperhitungkan dalam penentuan jarak burden yaitu diameter lubang ledak, bobot isi batuan, dan struktur geologi dari batuan tersebut.

 

  1. Spasi (S) adalah jarak terdekat antara dua lubang ledak yang berdekatan dalam satu baris (row). Jika jarak spasi terlalu kecil akan menyebabkan batuan hancur menjadi halus, karena energi yang menekan terlalu kuat. Sedangkan jika spasi terlalu besar menyebabkan banyak bongkah, hal ini disebabkan karena energi ledakan dari lubang yang satu tidak mampu berinteraksi dengan energi dari lubang lainnya.

 

  1. Stemming (T) adalah tempat material penutup di dalam lubang ledak, yang letaknya di atas kolom isian bahan peledak. Fungsi stemming adalah agar terjadi keseimbangan tekanan dan mengurung gas-gas hasil ledakan, sehingga dapat menekan batuan dengan energi yang maksimal. Selain itu stemming juga berfungsi untuk mencegah agar tidak terjadi batuan terbang (flyrock) dan ledakan tekanan udara (airblast) saat peledakan.

 

  1. Subdrilling (J) adalah tambahan kedalaman pada lubang bor di bawah lantai jenjang yang dibuat dengan tujuan agar batuan dapat terbongkar sebatas lantai jenjangnya. Jika panjang subdrilling terlalu kecil maka batuan pada batas lantai jenjang (toe) tidak lengkap terbongkar sehingga akan menyisakan tonjolan pada lantai jenjangnya, sebaliknya bila panjang subdrilling terlalu besar maka akan menghasilkan getaran tanah dan secara langsung akan menambah biaya pemboran dan peledakan.

 

  1. Kedalaman Lubang Ledak (H) merupakan jumlah total antara tinggi jenjang dengan subdrilling dan disesuaikan dengan kapasitas alat gali muat serta pertimbangan geoteknik.

 

  1. Panjang Kolom Isian (PC) merupakan panjang kolom lubang ledak yang akan diisi bahan peledak. Panjang kolom ini merupakan kedalaman lubang ledak dikurangi panjang stemming yang digunakan.

 

  1. Tinggi Jenjang (L) ditentukan oleh peralatan lubang bor dan alat muat yang tersedia. Tinggi jenjang berpengaruh terhadap hasil peledakan seperti fragmentasi batuan, ledakan udara, batu terbang dan getaran tanah. Hal ini dipengaruhi oleh jarak burden.

 

  1. Powder Faktor atau dalam istilah lain disebut dengan spesific charge adalah suatu bilangan yang menunjukkan jumlah bahan peledak yang digunakan untuk membongkar sejumlah volume batuan. Hal ini disebabkan dari nilai powder factor dapat diketahui tingkat efisiensi bahan peledak untuk membongkar sejumlah batuan.

Sejarah Penambangan Nikel di Indonesia

Indonesia adalah salah satu produsen nikel terbesar di dunia, dan sejarah penambangan logam berharga ini telah membentuk perjalanan industri tambang Indonesia. Artikel ini akan mengulas perkembangan sejarah penambangan nikel di Indonesia, dari eksplorasi awal hingga pembentukan perusahaan-perusahaan utama.

 

Awal Eksplorasi Nikel: 

Pada tahun 1935 hingga 1939, dua perusahaan swasta, Mijnbouw Maatschappij Celebes dan Boni Tolo Maatschappij, memulai eksplorasi wilayah Malili. Namun, penemuan besar terjadi di Pomala pada tahun 1938. Sekitar 20.000 ton bijih nikel diekspor ke Jepang, yang kemudian membangun pabrik pengolahan nikel di Pomala.

 

Perkembangan Industri Nikel: 

Pada tahun 1967, Indonesia membuka pintu bagi investasi asing dalam industri pertambangan, termasuk nikel. Sebuah lelang internasional diadakan untuk mengeksploitasi dan mengolah nikel di Malili, dan INCO-Canada memenangkan lelang tersebut. Ini menghasilkan penandatanganan kontrak karya pada tanggal 27 Juli 1968 di Jakarta, yang mengawali berdirinya PT International Nickel Indonesia (PT Inco).

 

Pembentukan Aneka Tambang: 

Pada tahun yang sama, berbagai perusahaan pertambangan negara, termasuk Pertambangan Nikel Indonesia, digabung menjadi satu entitas yang lebih besar, yakni Perusahaan Negara Aneka Tambang. Salah satu unit penting yang menjadi bagian ANTM adalah pertambangan nikel di Pomala.

 

Kesimpulan: 

Sejarah penambangan nikel di Indonesia mencerminkan perkembangan industri tambang di negara ini. Dari eksplorasi awal hingga pembentukan perusahaan-perusahaan besar seperti PT Inco dan Aneka Tambang, nikel telah menjadi komoditas penting dalam ekonomi Indonesia dan pasar global.